Mereka Tidak Mengejar Konten, Mereka Mengejar Hidup

Para nelayan yang sedang menarik kapal ke tepian, (Soravista).

SORAVISTA.ID, Kabupaten Malang – Dua sosok nelayan berdiri di bagian tepi Pantai Nganteb, sembari menanti kehadiran nelayan lain yang baru datang berlayar sembari ditemani oleh ombak. Tangan mereka memegang tali yang terikat pada kapal, mata tertuju pada kapal yang berjuang menembus gulungan air. Tidak ada kamera yang diarahkan ke sana. Tidak ada stories yang direkam. Nelayan tidak mengejar konten tapi mereka mengejar hidup.

Pantai Nganteb menyimpan dua realitas yang hidup berdampingan. Di satu sisi, wisatawan datang membawa ekspektasi golden hour, ombak dramatis, dan sudut foto yang sempurna. Di sisi lain, nelayan lokal sudah lebih dulu hadir, bukan untuk menikmati, melainkan untuk bertahan. Mereka tidak melihat laut sebagai estetika mereka menaklukkannya setiap hari demi penghidupan.

Baca Juga: Momen Kebersamaan Keluarga di Gunung Bokong Malang

Fenomena content-driven travel mendorong Gen Z untuk melihat destinasi sebagai latar, bukan sebagai ruang hidup. Akibatnya, banyak hal yang terlewat termasuk cerita manusia-manusia yang justru membentuk karakter sebuah tempat. Nelayan Nganteb adalah bagian dari identitas pantai ini. Tanpa mereka, Nganteb hanya akan menjadi hamparan pasir biasa.

Kesadaran terhadap komunitas lokal adalah bagian dari etika berwisata yang sering kali tenggelam di bawah ambisi mengejar engagement media sosial. Kita sering melihat wisatawan dengan ringannya mengarahkan lensa kamera ke arah nelayan yang sedang menarik jala atau memperbaiki perahu tanpa izin. Ini adalah bentuk pelanggaran ruang pribadi yang kerap dianggap wajar hanya karena interaksinya berlangsung di ruang terbuka. Padahal, bagi mereka, pantai bukanlah sekadar latar belakang foto atau panggung untuk konten orang lain; pantai adalah kantor, tempat kerja, dan ruang hidup yang sakral.

Generasi Z memiliki kapasitas besar untuk menggeser paradigma pariwisata. Selama ini kita sudah cukup vokal soal eco-friendly membawa botol minum sendiri atau tidak membuang sampah sembarangan. Namun, tantangan berikutnya adalah menjadi wisatawan yang sadar manusia.

Menjadi sadar manusia berarti memahami adanya hierarki kepentingan di sebuah lokasi. Kepentingan nelayan untuk mencari nafkah jauh lebih tinggi daripada kepentingan kita untuk mendapatkan foto “human interest” yang dramatis. Saat kita mengambil gambar tanpa izin, kita sedang melakukan komodifikasi terhadap identitas dan aktivitas mereka demi validasi digital kita sendiri.

Karena pada akhirnya, perjalanan terbaik bukan yang paling banyak menghasilkan konten melainkan yang paling banyak mengajarkan sesuatu tentang dunia dan orang-orang di dalamnya. Nganteb mengajarkan satu hal untuk kita, di balik setiap pantai yang indah, selalu ada manusia yang bekerja keras untuk tetap hidup di sana.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *