Tracking Puncak Kawinajang: Uji Ketahanan Fisik dalam Perjalanan 5 Jam

Jalur tracking Puncak Kawinajang di Gunung Kawi kini menjadi perbincangan hangat di kalangan pendaki yang terkenal ekstrem. Perjalanan ini bukan sekadar wisata alam santai, melainkan sebuah ujian fisik dan mental yang nyata bagi siapa pun .

Baca juga: Tracking Puncak Kawinajang, Uji Fisik dan Mental Pendaki

Sebagai destinasi yang dekat dengan masyarakat Jawa Timur, Puncak Kawinajang memberikan dampak besar bagi standar keamanan pendakian lokal. Rata-rata pendaki membutuhkan waktu tempuh hingga lima jam untuk mencapai puncak, tergantung pada kondisi cuaca dan ketahanan fisik masing-masing. Durasi panjang ini memaksa pendaki menyiapkan logistik dan stamina secara serius sejak awal.

Sisi negatif dari jalur ini adalah kontur tanah yang sangat terjal, licin, dan minim pegangan. Keydy, seorang pendaki asal Malang, secara tegas memperingatkan bahwa jalur ini mengandung risiko tinggi bagi keselamatan .

“Untuk para pendaki pemula, sebaiknya jangan mencoba jalur ini dulu karena risiko cedera sangat besar,” tegas Keydy saat di jalur pendakian. 

Jalur yang penuh akar pohon menjalar dan tanah berlumpur ini menuntut penggunaan alat yang mumpuni, seperti sepatu gunung, jaket anti-air, hingga trekking pole bagi mereka yang ingin melakukan perjalanan cepat atau tektok.

Di sisi lain, aspek kemanusiaan muncul dari cerita Yusuf, pendaki asal Surabaya. Ia berbagi pengalaman tentang bagaimana rasa lelah yang luar biasa menghantamnya sejak dari Pos 3. Yusuf menekankan pentingnya latihan kesalahan kecil seperti terlambat makan atau kurang minum dapat berakibat fatal pada kondisi tubuh.

Meskipun melelahkan, Kawinajang menyuguhkan fenomena alam yang luar biasa Saat cuaca tepat, cahaya keemasan matahari akan menembus celah kabut tipis dan menciptakan siluet dramatis yang memikat mata. Alvian bahkan membagikan fakta unik bahwa selama ia mendaki, ia tidak pernah menemui cuaca mendung saat berada di puncak.

Secara keseluruhan, Puncak Kawinajang adalah kombinasi antara keindahan visual “Mini Torean” yang menyerupai Gunung Rinjani dan tantangan jalur yang menguras tenaga. Meski menawarkan spot foto yang memikat, pengelola tetap melarang pendaki berlama-lama di titik rawan, terutama saat hujan membuat jalur semakin licin. Perjalanan ini pada akhirnya membuktikan bahwa puncak hanyalah bonus proses perjuangan di sepanjang jalur itulah hadiah yang sesungguhnya

Link maps menuju puncak kawinajang’

https://maps.app.goo.gl/BzCcAMhySVQCfeHGA

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *