
Pendakian ini dimulai dengan kondisi yang tidak sepenuhnya ideal. Ada luka yang belum pulih benar, ada kaki yang masih terasa nyeri, dan ada pikiran yang sebenarnya ragu apakah perjalanan ini keputusan yang tepat. Namun langkah tetap diambil. Bukan untuk terlihat kuat, tetapi untuk mencoba berjalan sejauh yang mampu ditempuh hari itu.
Di awal jalur, luka terasa jelas. Setiap tanjakan seperti mengingatkan bahwa tubuh membawa beban lebih dari sekadar ransel. Langkah jadi lebih pelan, jeda istirahat lebih sering. Tidak ada paksaan untuk menyaingi siapa pun. Fokusnya hanya satu terus berjalan dengan cara yang paling aman dan jujur pada kondisi diri sendiri.
Seiring perjalanan, suasana perlahan berubah. Rasa sakit memang tidak sepenuhnya hilang, tapi tidak lagi mendominasi. Obrolan ringan, pemandangan hutan, dan udara sejuk membuat pikiran bergeser. Luka yang tadinya terasa besar mulai mengecil, tergantikan oleh fokus pada langkah berikutnya. Di titik ini, perjalanan tidak lagi soal sakit atau kuat, tapi soal bertahan dan menyesuaikan diri.
Saat akhirnya sampai di puncak, tidak ada euforia berlebihan. Yang ada justru rasa lega dan tenang. Berdiri di sana sambil mengatur napas, terasa jelas bahwa perjalanan ini sudah memberi sesuatu yang lebih dari sekadar pemandangan. Luka yang dibawa sejak awal memang masih ada, tapi kini ditemani cerita tentang usaha, sabar, dan keputusan untuk tidak menyerah.
Pendakian ini membuktikan bahwa tidak semua perjalanan dimulai dari kondisi terbaik. Ada kalanya kita berangkat dengan luka, baik fisik maupun perasaan. Namun selama langkah terus dijaga dan batas diri dihormati, selalu ada cerita yang bisa diukir di akhir perjalanan. Tidak sempurna, tapi nyata dan layak diingat.
