Jalur Puncak Lincing: Tantangan anak Arjuno yang Semakin Diminati Pendaki

Puncak Lincing di kawasan Gunung Arjuno kembali menarik perhatian pendaki Jawa Timur dalam beberapa bulan terakhir. Dengan ketinggian sekitar 1.860 mdpl dan relatif dekat dari Malang Raya, puncak ini menawarkan ketenangan yang jarang ditemui di jalur pendakian populer lainnya. Hamparan awan putih, bentang punggungan terbuka, serta lanskap alami yang masih terjaga menjadikan Lincing sebagai destinasi alternatif bagi pendaki yang menghindari keramaian.

Baca Juga: Puncak Kawinajang Malang, Tantangan Trek dan Keindahan Alam

Meski namanya belum setenar puncak-puncak utama Arjuno–Welirang, karakter jalur dan panoramanya justru menjadi magnet tersendiri. Tebing berbatu, ilalang tinggi, serta sudut pandang 360 derajat membuat pendaki merasa berada di ruang eksplorasi yang lebih autentik.

Namun di balik keindahan tersebut, jalur menuju Puncak Lincing dikenal ekstrem dan menguras fisik. Kemiringan jalur yang tajam, tanah licin pascahujan, serta minimnya pegangan di beberapa titik curam membuat pendaki harus ekstra waspada. Kondisi ini semakin terasa pada musim hujan akhir tahun, ketika cuaca kerap berubah secara tiba-tiba.

Dalam pengamatan langsung di lapangan, pendaki dari berbagai daerah Malang, Batu, hingga Surabaya terus berdatangan untuk menjajal jalur yang kerap dijuluki “galak” tersebut. Fenomena ini menunjukkan adanya peningkatan minat terhadap jalur ekstrem sebagai bentuk tantangan baru. Bahkan, sebagian pendaki menyebut Puncak Lincing sebagai “uji mental sebelum menuju Arjuno dan Welirang”.

Jaya, pendaki asal Balikpapan yang ditemui di jalur, mengaku jalur Lincing meninggalkan kesan mendalam baginya .  “Jalurnya licin banget, apalagi kalau habis hujan. Harus benar-benar hati-hati karena cuacanya juga mood-moodan,” ujarnya.
Ia bahkan menilai jalur ini kurang cocok bagi pendaki pemula.
“Jujur aku agak trauma. Buat pemula, jalur ini terlalu berisiko,” tambahnya.

Pernyataan tersebut memperkuat perbincangan soal keamanan jalur Puncak Lincing. Minimnya fasilitas pengaman dan kondisi tanah yang rawan longsor membuat sebagian pendaki memilih kembali sebelum mencapai puncak. Meski demikian, risiko tersebut justru menjadi pengalaman yang dicari pendaki berpengalaman antara paradox dan kepuasan mendaki.

Pada akhirnya, jalur terjal Bukit Lincing tidak hanya menghadirkan tantangan fisik, tetapi juga membentuk narasi mental bagi setiap pendaki. Pendakian di jalur ini menegaskan bahwa gunung bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang belajar tentang batas diri, kesiapan, dan tanggung jawab terhadap alam.

Para pendaki semakin aktif membagikan pengalaman mereka melalui media sosial, sehingga Puncak Lincing berkembang menjadi destinasi ekstrem yang diminati tanpa kehilangan karakter alaminya. Tantangan, risiko, dan keindahan berpadu membentuk satu cerita perjalanan yang terus diperbincangkan para pendaki Jawa Timur.

Link maps menuju puncak lincing

https://maps.app.goo.gl/8jy1fj4wHjjYprHdA

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *