
Momen santai di bawah rindangnya pohon pinus dengan latar pemandangan Kota Batu yang memukau, (Sahwahita)
Kota Batu, Jawa Timur Udara sejuk khas pegunungan menemani perjalanan kami dari Kabupaten Malang menuju Kota Batu. Kami menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit menuju kawasan Coban Talun, tempat keindahan alam dan kesadaran lingkungan berpadu di Bukit Kaliandra, yang warga kenal sebagai Bukit Kalindra.
Sepanjang perjalanan, hamparan kebun apel, jeruk, dan tanaman hijau membingkai kiri kanan jalan. Suasana semakin menenangkan ketika roda kendaraan mulai menanjak menuju Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Setibanya di loket, petugas menjual tiket masuk seharga Rp12.000 per orang harga terjangkau untuk menikmati kesejukan alam.
Begitu melangkah masuk, hawa dingin langsung menyergap, meski matahari siang terasa terik. Pohon-pohon pinus menjulang tinggi menciptakan bayang-bayang rindang yang menyejukkan. Di sinilah keheningan dan kesejukan berpadu menjadi ruang kecil untuk healing dari hiruk-pikuk rutinitas perkotaan.
Menjaga Alam Lewat Pengelolaan Bertanggung Jawab

Momen bersama pengelola Bukit Kalindra – Pak Tofa, (Sahwahita)
Di balik suasana tenang itu, Pak Tofa pria asal Bojonegoro berperan aktif menjaga keseimbangan kawasan ini. Ia kini menjabat sebagai Kuasa Tugas Pengelola Bukit Kaliandra, yang ia sebut dengan nama resmi “Kaliandra Sky Forest”.
Saat kami temui pada Sabtu, 4 Oktober 2025, Pak Tofa menjelaskan bahwa pengelolaan wisata ini masih dalam tahap awal.
“Kami baru sebatas pemadatan jalan dan membuka akses menuju area hutan. Belum ada pembangunan besar karena izin resmi masih dalam proses,” tuturnya.
Perhutani bersama Palawi mengelola lahan hutan di kawasan ini setelah mendapat hak pengelolaan khusus dari pemerintah. Setiap langkah pengembangan harus melalui proses legal yang ketat.
“Yang kami jaga sekarang adalah keseimbangan lingkungan. Petani lokal tetap bisa bertani di kawasan hutan, tapi tidak boleh menebang atau menggali bukit sembarangan,” tambahnya.
Bagi Pak Tofa, menjaga produktivitas petani tanpa merusak alam adalah bentuk nyata dari praktik ekologi berkelanjutan.
Tiga Pilar Pengembangan Bukit Kaliandra
Pengelola Bukit Kaliandra mengembangkan kawasan ini bukan semata untuk wisata alam, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Dalam rencana jangka panjang, proyek ini berfokus pada tiga misi utama: Pariwisata, Agroforestri, dan Ekologi.
“Kalau bicara potensi, kami ingin memperkenalkan Bukit Kaliandra sebagai kawasan wisata yang menyatukan alam, pertanian, dan pelestarian lingkungan,” jelasnya.
Saat ini, pengunjung mendaki lewat jalan tradisional warga karena pengelola belum membuka jalur hiking resmi.
“Kedepan akan kami siapkan jalur trekking tersendiri yang lebih aman dan nyaman,” tambahnya yang optimis.
Pesan dari Penjaga Hutan

Menutup perbincangan, Pak Tofa menyampaikan pesan sederhana namun bermakna:
“Kalau datang ke hutan, nikmati alamnya dengan cara yang benar. Jangan buang sampah sembarangan, terutama sampah non-organik. Kalau bakar-bakar, pastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan tempat.”
Selain itu, ia menjelaskan bahwa warga lokal kini mengelola warung di puncak Bukit Kalindra. Mereka mendapat izin sementara untuk berjualan di area tersebut.
“Kami ingin warga tetap berdaya, asalkan tidak merusak lingkungan. Setelah izin formal rampung, semuanya akan kami tata,” jelasnya.
Wisata di ketinggian 1.500 mdpl ini mulai populer dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Pengunjung mengenalnya sebagai destinasi “healing” dan wisata alam dengan panorama lima gunung yang menawan. Bukit Kalindra ini bisa masuk list tempat yang wajib untuk Sora kunjungi.
Bagussss
Tulisannya ringan namun tetap memuat value untuk menambah wawasan. Bisa jadi rekomendasi menarik kalo ke Batu 🤩👏