
Malang — Desa Jambangan, sebuah desa agraris di Kabupaten Malang, menyimpan pesona yang tak sekadar indah dipandang, tetapi juga relevan dengan kebutuhan generasi muda hari ini. Di antara hamparan sawah yang hijau dan udara pedesaan yang tenang, terbentang sebuah sudut desa yang kini mulai dikenal sebagai spot nyantai anak muda dengan latar megah Gunung Semeru.
Baca Juga : Merentangkan Diri di Tumpak Sewu, Ruang Pulih Alam Lumajang
Keberadaan spot ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pemuda lokal dan mahasiswa yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dari titik ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan sawah yang membentang luas dengan siluet Gunung Semeru yang berdiri kokoh di kejauhan sebuah kombinasi lanskap yang jarang ditemui di ruang nongkrong pada umumnya.
Berada di wilayah Kabupaten Malang, spot ini menjadi destinasi yang mudah dijangkau masyarakat sekitar tanpa harus pergi jauh ke kawasan wisata komersial. Tidak ada tiket masuk, tidak ada bangunan megah yang ada hanyalah keaslian desa, interaksi warga, dan alam yang masih terjaga.
Bagi warga Desa Jambangan, keindahan ini bukan sesuatu yang dibuat-buat. Sawah dan Semeru telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, kini sudut desa tersebut mulai dimaknai ulang sebagai ruang publik yang ramah bagi anak muda.
Berbeda dengan kafe atau tempat nongkrong di perkotaan, spot ini menawarkan pengalaman yang tidak biasa: duduk santai di pematang sawah, ditemani angin sepoi-sepoi, suara alam, dan pemandangan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Keunikan inilah yang membuatnya terasa “aneh” namun justru menarik nongkrong tanpa Wifi, tapi penuh ketenangan.
Konsep ini dinilai sesuai dengan karakter anak muda yang mulai mencari ruang refleksi, healing, dan kebersamaan yang lebih autentik.
Bagi mahasiswa KKN, spot ini menjadi ruang jeda dari rutinitas pengabdian. Sementara bagi pemuda desa, kehadiran tempat ini memberi kebanggaan tersendiri bahwa desa mereka memiliki potensi yang layak dikenalkan.
“Di sini kita bisa duduk bareng, ngobrol, lihat Semeru. Rasanya beda, lebih tenang,” ungkap salah satu pemuda desa.
Cerita-cerita sederhana seperti ini memperlihatkan bagaimana ruang alam mampu mempertemukan manusia, memperkuat relasi sosial, dan membangun rasa memiliki terhadap desa.
Potensi dan Tantangan
Meski berpotensi menjadi daya tarik baru, muncul pula kekhawatiran akan dampak negatif jika tidak dikelola dengan bijak. Risiko sampah, kerusakan lahan pertanian, hingga alih fungsi sawah menjadi perhatian tersendiri bagi warga.
Di sinilah letak tantangan Desa Jambangan: menjaga keseimbangan antara promosi keindahan dan pelestarian lingkungan. Tanpa pengelolaan yang tepat, keindahan yang ada justru dapat terancam.
Di tengah tren wisata alam dan ruang publik terbuka yang semakin diminati generasi muda, Desa Jambangan berada pada momentum yang tepat. Spot ini bisa menjadi langkah awal menuju pengembangan desa wisata berbasis alam dan komunitas, tanpa kehilangan identitas agrarisnya.
Keindahan Desa Jambangan bukan sekadar tentang panorama, melainkan tentang bagaimana desa menyediakan ruang hidup yang manusiawi tempat anak muda bisa berhenti sejenak, bernapas, dan kembali menghargai alam serta akar sosialnya.
Maps menuju Desa Jambangan : https://maps.app.goo.gl/8Rh8mv1dZEVQ9Cnp7