
Ketika Liburan Jadi Ajang Update: FOMO dan Perilaku Wisata Gen Z
Pagi itu, cahaya matahari menembus celah pepohonan di sebuah tebing curam. Kabut tipis, menciptakan siluet dua anak muda yang berdiri di depan pemandangan luar biasa. Kamera sudah siap. Klik. Satu foto, satu story, satu langkah lagi menuju validasi digital.
Bagi banyak anak muda hari ini, momen seperti itu bukan sekadar perjalanan alam. Itu adalah konten. Itulah bentuk nyata dari fenomena yang akrab disebut FOMO (Fear of Missing Out) rasa takut tertinggal dari tren, momen, atau pengalaman yang sedang viral di linimasa.
Antara Hasrat Eksplorasi dan Tekanan Sosial

FOMO bukan sekadar istilah keren di media sosial. Menurut berbagai survei psikologi digital, Gen Z adalah generasi paling rentan terhadap fenomena ini. Mereka tumbuh bersama Instagram, TikTok, dan YouTube tempat di mana setiap perjalanan bisa jadi highlight reel hidup seseorang. “Kalau teman-teman ke tempat wisata baru, aku juga pengin ke sana. Takut banget ketinggalan,” ujar Rani (23), mahasiswa yang aktif membuat konten perjalanan. “Kadang belum sempat menikmati tempatnya, udah sibuk cari angle foto yang bagus.” Rasa penasaran dan dorongan untuk selalu update membuat banyak Gen Z rela mengejar destinasi hits bahkan sebelum benar-benar tahu apa yang ingin mereka rasakan dari perjalanan itu.
Dampaknya: Liburan yang Tak Lagi Tentang Diri Sendiri
Fenomena FOMO mendorong perilaku wisata yang serba cepat dan impulsif. Banyak yang bepergian bukan karena ingin menjelajah, tapi karena ingin terlihat menjelajah. Akibatnya, makna liburan bergeser: dari mencari pengalaman menjadi mencari exposure. Tempat wisata viral cepat penuh, alam jadi latar belakang estetika, bukan ruang refleksi. Selain itu, tekanan untuk selalu tampil “menarik” di media sosial sering membuat perjalanan terasa melelahkan secara emosional. Alih-alih rileks, sebagian justru merasa cemas karena takut kontennya tidak cukup keren dibanding yang lain.
Di sisi lain, FOMO juga mendorong semangat eksplorasi dan kreativitas. Banyak anak muda justru menemukan minat baru dari perjalanan yang awalnya dilakukan karena tren. Mereka belajar memotret, menulis, membuat vlog, bahkan peduli pada isu lingkungan dan keberlanjutan wisata. Kuncinya adalah mindful traveling menyadari alasan di balik setiap perjalanan. Apakah kita pergi karena ingin pengalaman baru, atau hanya ingin likes baru?
FOMO adalah bagian dari kehidupan digital kita tak terhindarkan, tapi bisa dikendalikan.
Selama kita tetap sadar bahwa traveling bukan tentang siapa yang paling cepat update, melainkan siapa yang paling dalam menikmati, maka perjalanan itu akan selalu bermakna. Jadi, sebelum membuka kamera untuk berfoto di bawah cahaya matahari seperti di awal cerita, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak, menarik napas, dan benar-benar menikmati momen itu.

[…] Baca Juga: FOMO Liburan Bersama Pasangan […]