
Jika jalur pendakian menuju Puncak Kawinajang dikenal ekstrim karena tanjakan panjang dan medan terjal. Dalam beberapa waktu terakhir, kabut tebal kerap turun secara tiba-tiba di jalur Kawinajang, terutama saat pendaki memulai perjalanan turun menjelang sore hari.
Baca juga: Jalur Puncak Lincing: Tantangan anak Arjuno yang Semakin Diminati Pendaki
Fenomena ini dirasakan langsung oleh Keydy, salah satu pendaki yang baru saja menuntaskan pendakian ke Puncak Kawinajang. Ia mengungkapkan bahwa kondisi cuaca berubah drastis hanya dalam hitungan menit setelah rombongannya meninggalkan puncak.
“Waktu di puncak masih cukup jelas. Tapi baru jalan turun sekitar 20 menit, kabut langsung turun cepat banget. Jarak pandang tinggal beberapa meter,” ujar Keydy.
Kabut yang datang mendadak tersebut mengubah karakter jalur secara signifika. Jalur yang sebelumnya terlihat cukup aman perlahan tertutup kabut putih pekat. Akar pohon, turunan curam, serta belokan sempit yang mudah dikenali saat kondisi cerah berubah menjadi samar dan sulit diprediksi.
“Waktu naik malah cerah banget. Tapi pas turun, kondisi berkabut itu jauh lebih berbahaya. Salah pijak sedikit saja bisa langsung tergelincir,” katanya
Menurut Keydy, kabut tidak hanya membatasi jarak pandang, tetapi juga menyulitkan pendaki membaca kontur jalur. Tanah yang lembab dan licin tertutup daun basah membuat pendaki sulit membedakan antara permukaan datar, turunan tajam, atau lubang kecil di jalur.
Selain faktor visibilitas, kabut tebal juga memicu penurunan suhu secara drastis. Udara dingin yang menusuk membuat tubuh lebih cepat kehilangan panas, terlebih ketika pendaki masih basah oleh keringat sisa pendakian.
Kondisi tersebut memaksa rombongan memperlambat langkah secara signifikan. Waktu tempuh turun yang semula diperkirakan lebih singkat dibandingkan pendakian justru menjadi lebih lama karena harus sering berhenti menunggu kabut menipis.
Pengalaman ini menegaskan adanya paradoks pendakian Kawinajang jalur naik yang ekstrem sering dianggap sebagai tantangan utama, padahal fase turun dalam kondisi cuaca buruk justru menjadi titik paling rawan. Bahkan, bagi Keydy, tantangan psikologis saat turun lebih berat dibandingkan tanjakan ekstrem saat mendaki.
“Capek fisik itu masih bisa ditahan. Tapi pas turun berkabut, rasa was-was itu yang bikin mental terkuras,” katanya.
Pengelola jalur pendakian Kawinajang juga mengakui bahwa fase turun saat kabut tebal merupakan salah satu momen paling berisiko. Mereka terus mengimbau pendaki agar tidak memaksakan turun ketika jarak pandang sangat terbatas serta menjaga jarak aman antarpendaki.
Bagi Keydy, pengalaman tersebut menjadi pengingat kuat tentang hakikat pendakian. Ia menyadari bahwa mendaki gunung bukan hanya soal mencapai puncak, melainkan juga soal kemampuan membaca alam dan kembali dengan selamat.
“Naik itu soal kuat, tapi turun itu soal selamat. Kabut bikin kita sadar kalau di gunung, manusia benar-benar kecil,” pungkasnya.
Link maps Puncak kawinajang