Telaga Polaman Lawang, Sudut Tenang di Tengah Kampung.

Telaga Polaman,Lawang.

Telaga Polaman menyambut sora dengan air bening yang mengalir pelan di antara dinding batu dan pepohonan rimbun di pinggir kampung. Anak-anak berdiri di tepi beton, menatap ke dalam air dan memeriksa dunia kecil berisi ikan serta pantulan langit. Di sisi lain, beberapa orang dewasa duduk santai di dekat tepian sambil merendam kaki dan mengobrol ringan.

Suasana telaga terasa akrab karena rumah warga berdiri tak jauh dari permukaan air. Beberapa rumah punya teras dan tangga yang langsung mengarah ke pinggir telaga. Warna oranye dinding rumah dan biru tong air berpadu dengan hijau pepohonan, menciptakan pemandangan yang tidak rapi tetapi terasa jujur dan hangat.

Di sisi lain telaga, tulisan besar “Telaga Polaman” berdiri menempel di deretan pohon. Tulisan itu menegaskan identitas ruang hijau ini di tengah permukiman. Tangga batu bertingkat menuntun mata ke area yang lebih tinggi, tempat tanaman liar dan bebatuan menyusun tekstur alam yang apa adanya. Detail kecil seperti jembatan kayu sederhana dan perahu biru di tepi beton menunjukkan peran warga dalam memanfaatkan telaga. Mereka tetap menjaga nuansa asri di sekitarnya.

Telaga Polaman mengajak sora untuk menikmati hal-hal kecil: riak air yang pecah di pinggir beton, suara tawa anak yang memanggil temannya, atau desiran angin yang menggoyang pucuk pohon. Pengunjung bisa duduk di tepi, menggantung kaki di atas air, lalu membiarkan pikirannya berjalan pelan mengikuti arus. Tidak ada kewajiban membeli tiket mahal atau menyewa fasilitas tertentu; cukup hadir dan memberi waktu untuk diri sendiri.

Keberadaan telaga di tengah kampung juga menghadirkan rasa aman dan akrab, karena aktivitas wisata berjalan berdampingan dengan rutinitas warga. Ibu-ibu bisa mencuci atau berbincang di tepian, sementara anak-anak bermain, dan tamu dari luar daerah ikut larut dalam suasana tanpa merasa canggung.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *