
Perjalanan menuju puncak akhirnya selesai setelah melewati jalur yang cukup menguras tenaga. Langkah demi langkah terasa lebih berat menjelang akhir pendakian, tapi rasa capek perlahan terbayar saat area puncak terbuka. Di titik ini, tubuh memang lelah, namun perasaan justru lebih ringan. Duduk sejenak sambil menarik napas panjang menjadi hal pertama yang dilakukan sebelum benar-benar menikmati Gunung Arjuno dari kejauhan.
Dari puncak, Gunung Arjuno terlihat jelas berdiri megah di kejauhan. Garis punggungnya tampak tegas, menjadi latar yang kontras dengan hamparan hijau di sekitarnya. Tidak perlu banyak kata untuk menggambarkan pemandangan ini. Cukup melihat dan menyadari bahwa semua langkah sebelumnya membawa sampai ke titik ini.
Suasana di puncak cenderung tenang. Angin berembus cukup kencang, membuat jaket terasa lebih berguna dari sebelumnya. Beberapa pendaki memilih duduk diam, sementara yang lain sibuk mengabadikan momen. Tidak ada yang terburu-buru. Waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi ruang untuk benar-benar menikmati apa yang ada di depan mata.
Momen menikmati Arjuno dari kejauhan menjadi bagian yang paling diingat. Bukan karena dramatis, tetapi karena terasa nyata. Berdiri di puncak dengan keringat yang masih tersisa, melihat gunung besar di hadapan, membuat perjalanan terasa masuk akal. Capeknya tidak sia-sia, dan proses panjang menuju puncak menemukan maknanya di sini.
Pendakian ini mengingatkan bahwa puncak bukan selalu tentang selebrasi besar. Kadang, cukup duduk, melihat pemandangan, dan menyimpan rasa puas dalam diam. Dari atas, Arjuno berdiri tenang, sementara para pendaki belajar bahwa menikmati hasil perjalanan tidak harus berlebihan. Yang penting, sampai, melihat, dan pulang dengan cerita yang jujur.
Baca Juga: Naik Tanpa Ambisi, Turun dengan Cerita dari Gunung Bokong
